![]() |
| 10 November 2013 |
Story telling adalah lomba yang membutuhkan kesabaran dan keuletan yang tinggi. Memang sih, aku belum pernah menang. Paling hanya sampai babak semi-final dan itupun aja gak lolos ke babak final. Tapi, tentu lah aku mendapatkan banyak pelajaran yang berharga.. Walaupun gak seberapa. Aku akan ceritakan semua itu.
![]() |
| 10 November 2013 |
Menurut opini saya, juri asing itu lebih melihat dari segi pengucapan,pelafalan,dll. Yang diprioritaskan itu, bukan tentang teatrikal. Terbukti saat aku final, dapat giliran pertama. Disana ada 3 juri, si mr. Timothy dan 2 juri Indonesia. Awalnya aku optimis untuk menang (HARUS!) tapi ternyata teatrikal ku masih kalah dengan teatrikal yang dibawakan oleh anak-anak dibawah umurku. Ada yang membawakan tentang reog Ponorogo samibl "HOG YA, HOG-YA" ada juga yang mengambil cerita tentang matahari dan bulan (kalau tidak salah). Intonasi mereka mengikuti alur cerita sehingga membuahkan suatu keserasian nada. Mimik mereka juga tak kalah bagus nya. Bagus dan "kena". Dibandingkan aku, yang agak-agak malu dan agak letih saat itu. Yah,yah,yah tak apa-apa lah.. Namanya aja juga awal-awal, sudah Alhamdulillah sekali. Baru pertama kali ikut, eh masuk semi-final.
"King Midas was a very rich man, who had a beautiful daughter named Phillomena.......... . . ... . . ..."
Itu tadi yang pertama. Sekarang yang kedua kalinya. Aku mengikuti lomba stor telling yang diadakan oleh Stikom. Cerita yang dibawakan harus berasal dari "tanah jawi". Entah dari jawa timur, jawa tengah ataupun jawa barat. Pokoknya dari Jawa! okelah, awalnya aku bingung. Harus cerita apa yang aku bawakan nanti saat lomba? kalau Banyuwangi adik kelasku sudah memakainya. Kalau tentang Joko Seger dan Roro Anteng pun pasti sudah banyak yang menggunakannya. Akhirnya setelah penantian panjang (emang Nikita Willy :p) aku menemukan suatu cerita yaitu "The Legend of Baturaden. Batur mean servant and raden mean nobility." Aduh anda tahu? propertiku adalah hanya kostum, tidak ada yang lain! Ditambah lagi saat pertemuan sebelum lomba, aku tidak ikut menghadiri. Dan aku mendapatkan nomor urut PERTAMA!! "OH MY GOD!"
Mendapatkan nomor urut pertama itu sesuatu banget! menjadi tolak ukur bagi orang lain dan gugup di awal-awal.. Parahnya, pada saat itu aku juga agak gagap saat memberitahukan ceritaku... OH DEAR.. Ditambah lagi kejengkelanku sama satu juri di kelasku! mangkel banget. Mangkel karena suatu ketidakpastian....
Waktu istirahat pun tiba, menunggu dengan deg-deg an dan bertemu dengan pembimbing ku, ibu Tanti Puspitorini.. Beliau berkata..,
"Loh gapapa toh Ren, di nomor urut pertama, setidaknya menjadi awal yang berkesan.."
Yahhh,,, yaudalah kalau itu menurut beliau.. Akhirnya setelah lama menunggu, peserta story telling dikumpulkan di dalam satu kelas dan dibacakan siapa-siapa yang masuk ke babak semi-final... DAN AKU GA MASUK!! Marah lagi deh, si Rendra Nugraha. Rasanya pas waktu itu pingin langsung keluar lagi. Lomba dan jurinya menjengkelkan... Darisitu aku dapatkan suatu kesimpulan yang mungkin tak semua orang setuju akan hal tersebut....
"Lomba ketiga sekaligus yang terakhir bagiku adalah kemarin tanggal 10 November 2013"

Bersama Fakhri Adha Nugroho, (sekilas hampir mirip dengan Nugraha, tapi tidak). Kita berdua adalah perwakilan Smamda Surabaya di lomba story telling yang diadakan oleh UNESA... Aku salut sama mereka. Walaupun mungkin tempatnya tergolong sederhana tapi mereka enggak molor. Peraturan mereka berbicara harus datang pukul 06.00 untuk melakukan registrasi ulang. Lalu 30 menit kemudian lombanya akan dimulai.. Dan ternyata jumlah pesertanya ada 62 atau 63 orang gitu..
But there's something different during that day. My hair was half brown mahogany and, half black! and i adore that. Walaupun hanya sementara tapi itu sudah membuatku sumringah. Hehe.. Oiya propertiku hanyalah kostum ala Caesar YKS dan 3 buah plastik berglitter emas. Sangat menyenangkan.. Aku dapat nomor urut 3.. Alhamdulillah.. Enggak dapat nomor urut sampai 40 atau seterusnya.
Hari itu aku tidak mau menjadi ambisius layaknya di Stikom sebelumnya, aku hanya mau mengikuti lomba itu semata-mata karena Allah. Enggak lupa juga aku mendapatkan kenalan baru anak Sma negeri Gresik (gatau berapa)
Optimis dan ketenangan adalah hal yang aku butuhkan saat itu, sret,sret,srett... Lomba sudah aku lewati menggunakan mik. Tapi sayangnya, durasi 5 menit terasa terlalu cepat. APA?!
Fakhri, adik kelasku optimis sekali bahwa aku akan menempati juara pertama. Akan tetapi hatiku berkata "amin." Terkadang pula ngomong "halah berlebihan kok."
Story telling adalah lomba terlama saat itu.. Mengalahkan waktu debate dan speech. Agak lama, dan agak bosan, tetapi harus tetap menghargai orang lain yang sedang tampil. Dibarengi dengan acara ngemil dan berbincang-bincang dengan Fakhri Nugroho (yang kebetulan sewangsa tapi tidak sekeluarga)..
Akhirnya, aku mendapatkan jawaban dari usahaku. AKU KALAH :') tidak ada babak semi-final ataupun babak final. Jadi hanya tampil sekali lalu selesai. Aku suka sih cara seperti itu, ada positif dan negatifnya. Pasti!
Tapi Unesa itu pintar,cerdas. Mereka menyuguhkan penampilan yang fenomenal yaitu orkestra dan Yosakoi. Sehingga peserta tidak dibuat kaget dan marah. Justru malah dihibur dan dibuat santai terlebih dahulu..
Awalnya aku mangkel, tapi hari selanjutnya ya merasa biasa saja....
Tapi kalau aku boleh berkata. Juri Indonesia itu sedikit "MANGKELNO". Ha?? kenapaa? Jawabannya simpel. Karena banyak dari juri pribumi yang ku temui, mereka hanya menilai dari segi teatrikalnya sahaja. Bukan dari pronounciation, fluency dan penguasaan cerita pastinya. Dulu, sebelum mengikuti UNESA, aku sempat jengkel karena salah satu perilaku juri di perlombaan story telling di salah satu kampus di Surabaya. Tau nggak? ada juri yang gak jelas! entah dia senyum, entah dia biasa (nggak senyum nggak marah- pokoknya biasa!) dan itu membuatku sedikit kesusahan untuk membaca situasi pada saat itu. Ditambah lagi dengan nomor urut pertamaku dan jengkelnya lagi, karena juri tersebut!
Tapi tetap. Bagi kalian yang hendak atau masih berkecimpung di dunia "Sotry telling" tetaplah bersabar dan berkomitmen. Cobalah hal baru, jangan takut untuk mengekspresikan diri, mimik dan gerakan saat tampil. Anggaplah juri sebagai manusia biasa, yang tidak terlalu menentukan hidup dan matimu. Kendalikan emosimu, terutama rasa malumu. Jangan pernah cemas, kalian pasti punya cara tersendiri untuk menaklukan rasa takut kalian semua. Dan satu saran yang paling penting dariku selama kamu tampil membawakan suatu cerita entah itu story telling atau yang lainnya.
"Jangan pedulikan apa yang kamu lakukan saat kamu tampil membawakan suatu cerita. Malu adalah sebagian dari iman. Tapi untuk hal ini, rasa malumu bisa menghambatmu. Dan jika itu terjadi, pesan dari cerita yang akan kau sampaikan tidak tersampaikan dengan semestinya."
















