Semua Bisa Jadi yang Terakhir




Pernah tak kamu merasa galau akan sesuatu? Galau akan sesuatu di saat waktu yang benar-benar tidak tepat. Memang perasaan itulah yang kurasakan saat menulis postingan ini. H-15 UN SMA tahun ajaran 2013-2014. Terbayang gimana jadinya. Berpisah yang benar-benar berpisah. Dahulu, aku sangat tidak rela menerima status sebagai alumni "SMP Muhammadiyah 5 Surabaya". Tapi setelah menjalani beberapa tahapan di Smamda, aku mendapat banyak pelajaran. Dan begitu pula dengan perasaanku ke Spemma. Terkikis tapi membekas. Berkurang tapi tetap tersimpan. Sayangnya gedungnya telah dihancurkan, sehingga berkurang pula satu "fasilitas" untuk mengenang semua yang telah ku lalui di sana.

      Sebenarnya, yang membuatku gundah saat ini bukanlah hal itu. Tapi kegalauan ini baru muncul dan mempengaruhi akalku di saat pendaftaran SNMPTN tutup. Ini aku tulis tanggal 29 Maret 2014. Dan pendaftarannya ditutup pada akhir Maret. Aku menulis SNMPTN ku di Universitas Brawijaya, jurusan Sastra Perancis sebagai pilihan pertama, dan Bisnis Pariwisata sebagai pilihan kedua sekaligus yang terakhir. Tapi kalau kupikir-pikir lagi, ternyata disana aku memang "ngekos". 
                 Dan selama aku hidup 17 tahun, aku belum pernah meninggalkan Surabaya, kota kelahiranku, dan berpindah ke tempat lainnya. Aku pun belum pernah tinggal di suatu tempat tanpa keluargaku selama bertahun-tahun. Sedangkan daku kuliah selama 4 tahun (Amiin). Dan daku pun tak pernah tinggal di tempat lain tanpa orang tua dan saudara-saudaraku. Paling lama pun itu di Pare, hanya 1 minggu.

                Entah bagaimanapun aku harus meyakinkan diriku, jangan sampai terlarut dalam samudera kebimbangan. Karena hal itu akan mempengaruhi diriku dan juga mentalku. Mungkin memang benar kata salah seorang guruku, beliau berkata;

"Mulai sekarang tata kehidupanmu, dan BERPIKIRLAH POSITIF.."

          Walau tak semudah bertutur, tapi apa salahnya jika tak dicoba dan yang paling penting diyakini. Rendra itu orangnya terpusat. Segala sesuatunya digerakkan oleh hatinya. Jangan tanya soal kenyamanan. Hal tersebut secara otomatis telah memasuki hal itu. Apabila hati in tak nyaman berada di suatu tempat, atau tak nyaman dengan kehadiran seseorang, maka saya pun tak nyaman. Dalam hal ini memang terlihat, bahwa seorang Rendra kurang mampu mengontrol dirinya. Tapi daku juga memahami bahwa manusia kan terus belajar di kehidupannya. Tapi setiap orang mempunyai waktu yang berbeda-beda bukan??

Walaupun begitu, aku juga harus belajar mengecap "duka nestapa" atau seminimal mungkin, "ketidaknyamanan" lah. Dan mengsugesti hati ini bahwa hal itu adalah sesuatu yang nyaman adanya. Tapi apadaya. daku akan berusaha dengan mengucapkan;


"Bismillahirahmanirahim.."

PINTA HATI KECILKU


             Saat kegalauan bersemayam di hati, saat kegelisahan merundung kalbu, saat kebingungan menyumbat cahaya hati, saat keputusasaan menghancurkan asa. 
Memang setiap insan mempunyai masalah yang berbeda-beda, begitu pula dengan jalan hidup mereka masing-masing. Aku pun insan yang selalu diterpa ujian, cobaan, caci makian dan stagnansasi kehidupan, yang mana pasti masalahku berbeda dengan masalah orang lain di dunia ini. Walau terkadang ku menyadari mengapa Raja langit dan Bumi memberikanku beban semacam itu. Tapi terkadang ku kalah melawan setan yang tumpangannya adalah hawa nafsuku sehingga terkadang pula aku berputus asa dari rahmat-Nya.

            Aku terlahir sebagai lelaki. Orang-orang menyebutku tidak normal. Perbedaan yang sangat jelas tampak tatkala aku bergaul dengan lelaki yang berjalan sesuai dengan kodratnya. Mereka berbicara, mereka bertingkah, mereka bertindak layaknya lelaki yang diidam-idamkan. Berjalan pada jalannya, berbicara sesuai dengan gayanya, dan bertingkah sesuai dengan kodrat yang ditentukan kepadanya.
    
          Sementara, tengok diriku? alangkah terlambatnya diriku menyadari semua ini, bahwa aku berjalan belok dari kodratku yang sebenarnya. Pada usiaku yang ke 17. Tepatnya pada penghujung tahun 2013. 
Kalbu ini rasanya seperti dikagetkan oleh ledakan kekecewaan yang membuat mataku tak bisa membendung air yang ada di dalamnya. Sedih di dalam hati, menangis tatkala sepi, murung di depan banyak orang. Dari mereka ada yang memperhatikan raut wajahku dan menanyakan tentang apa yang sedang melandaku. Tapi apa daya? aku tak bisa memberitahu mereka semua. Memang mereka yang peduli denganku adalah orang yang terbuka kepadaku. Bahkan membagikan rahasianya kepadaku.
          (Tapi bukan rahasia jika terdapat lebih dari satu orang yang mengetahuinya). Aku menghargai sikap terbuka mereka. Aku acungkan ibu jariku di saat mereka membagikan "rahasia" nya padaku. Dan aku pun merasa berharga tatkala aku menjadi seorang insan yang kecil tetapi menyimpan rahasia besar dari seorang insan lainnya. Wallahu'alam.
Mungkin memang hatiku yang kurang syukur atas nikmat-Nya. Mungkin mata ini yang kurang memperhatikan Keagungan-Nya yang tersebar luas di hamparan bumi yang luas. Mungkin kedua telinga ini yang kurang mau mendengarkan kebenaran dan lantunan suci Firman-Nya. Dan mungkin mata hati ini yang tertutupi dengan kenodaan jiwa serta kenistaan hati yang telah ku lakukan selama aku menghirup udara-Nya.

Merasa terkucil, merasa terasing, merasa sebagai sampah adalah perasaan yang aku rasa manakala aku bergabung dengan lelaki yang lainnya. Terkadang hatiku menyahutku dengan kata-kata yang mengucilkanku. Dan aku lebih tahu sebenarnya bahwa itu bukanlah suara hatiku. Nurani selalu mengatakan kata indah Ilahi.
              Aku pun tahu jika tak ada yang sia-sia dalam penciptaan-Nya. Dia menciptakan, dia pula yang merencanakan. Tapi apa daya? diriku adalah manusia cacat yang penuh akan noda hitam. Yang dibekali oleh nafsu sekaligus akal oleh-Nya. 
 Akan tetapi,
            Muncul pertanyaan;

"Tuhan mengapa engkau memilihku menjadi manusia yang berjalan belok dari kodrat yang engkau gariskan kepadaku? Mengapa harus aku? mengapa diriku? Apa makna yang tersirat dibalik ujianmu ini? Apakah saya tergolong orang sakit? sakit jiwanya, cacat mentalnya??"

     Aku sadar. Tuhan memang baik. Memberikanku rizki, orang tua, kebahagiaan, pertemanan, persahabatan, canda,tawa, senyum, keramahan, oksigen, makanan, minuman, ilmu dan Islam. Akan tetapi pertanyaan itu masih terngiang setiap ku kosong. Kapan jawaban itu muncul ke permukaan? dan kapankah aku bisa benar-benar memaknainya?

          Terima kasih untuk orang yang telah terbuka kepadaku dan membagikan sebahagian daripada rahasianya. Tetapi diri ini menghanturkan permintaan maaf yang sebesar-besarnya atas diri ini yang melakukan blokade hati. Sehingga menyebabkan aku tertutup. Karena aku tahu. Tak ada yang bisa betul-betul memahami hati dan segala perkataanya kecuali Dia yang menciptakannya.
     Karena kadangkala aku pun ingin di mengerti, aku pun ingin untuk dipahami. Aku pun ingin untuk dicintai oleh orang yang kucinta. Tapi hidup ini adalah panggung sandiwara yang keras. Sedangkan diri ini lemah bagaikan daun yang mudah terkoyak. Maka dari itu, kekuatan dan semangat eksternal sangat sakral nilainya bagiku untuk tetap bisa menjalani berbagai "skenario" hidup yang Tuhan menyuruhku untuk berperan di dalamnya.
      
           Terima kasih telah menjadi temanku, menjadi keluargaku, menjadi orang yang tetap "mau" mendengarkan curhatan BBM ku, terima kasih pula kepada orang-orang yang telah menjadi guruku, baik secara formal maupun non-formal. Terima kasih tentunya kepada Allah SWT yang telah memberiku kesempatan untuk menceritakan secuil kisah seorang manusia kecil di saat ujian sekolah (Mat-Sosio).

 Terima Kasih sebanyak-banyaknya Rendra Nugraha sampaikan kepada semua yang aku ingat maupun yang terlupakan. Yang berjasa, maupun yang tidak. Yang menetap maupun yang sekedar lewat, yang mengajari dan yang kuajari.





Diberdayakan oleh Blogger.