Pekan terakhir di bulan Januari adalah pekan yang mendebarkan bagiku. Bagaimana tidak? kamu sayang orang lain, dan orang itu terancam terdeportasi dari sekolahmu? Apalagi sekarang menjelang berakhirnya masa-masa SMA. Apalagi kamu belum tentu bertemu dia kelak di lain kesempatan. Dan pekan terakhir Januari adalah waktu dimana aku mengalami itu semua.
Seperti yang kalian ketahui pada postingan sebelumnya, aku menyayangi orang berinisial BB (bagi kalian yang kenal dekat denganku mungkin tahu). Dan dia banyak berubah dari kelas ke kelas, dari tingkat ke tingkat. Entah itu positif, atau negatif. Tapi yang paling menonjol dari dia adalah perubahan yang terus menerus negatif dalam bidang akademiknya. Yang pernah melewati SD, SMP ataupun SMA pasti sekurang-kurangnya pernah merasakan "bolos". Aku pun juga pernah melakukannya dan pernah merasakan bagaimana tertangkap basah saat ortu ku tahu aku membolos. Tapi untuk masalah dia berbeda. Dari kelas XI, terlihat perubahan yang terus menerus menurun. BB jadi semakin sering membolos. Entah itu sendiri ataupun dengan kawan-kawannya. Hingga sampai kemarin tanggal 27 Januari 2013.
Kejadian tersebut membuatku bingung. Tidak hanya satu teman dekatnya saja yang bertanya kepadaku tentang kehadirannya pada hari itu, melainkan beberapa orang. Termasuk teman sekelasku sendiri. Darisana aku berpikir; "sebenarnya dia itu sakit beneran atau bolos?" Kalau dia bolos sekali lagi, maka sanksinya adalah keluar dari sekolah. Karena jika kita tengok ke belakang, BB sudah terkena SP2 (surat peringatan 2). Dimana SP2 adalah peringatan terakhir. Dan jika seorang terdakwa melakukan kesalahan lagi, maka sanksinya adalah dideportasi alias keluar. Siapa yang mau dia keluar? Hari itu aku jalani dengan sedikit waswas dan khawatir. Aku pun menyadarinya, mengapa aku harus mengkhawatrikan dia? Jika ku menggunakan logika serta akal sehatku, yang aku dapatkan adalah;
Itulah hal yang aku dapatkan saat akal sehat ku ini berbicara. Tapi beda hal jika sanubari yang bercakap. Aku pasti masih mengkhawatirkannya dan terus mengkhawatirkannya. Dan itulah yang terjadi kepadaku hingga hari-hari selanjutnya.
Hari itu masih kujalani dengan perasaan waswas dan sedikit khawatir tentangnya, hingga waktu menjelang pulang sekolah. Salah seorang temanku mengatakan bahwa barusan orang tua nya mendatangi BK. Dan meminta kepastian dari BB. Bahkan sempat dikatakan bahwa BK mengatakan;
Ada dua teman dekatnya yang kebetulan sekelas denganku. Watak dan sifatnya tak jauh berbeda dengan seorang BB (tapi pasti terdapat perbedaan diantara mereka). Mereka berdua mengatakan yang serupa kepadaku, bahwa orang tuanya BB barusan saja datang ke BK. Walaupun diantara mereka berdua mempunyai perbedaan versi ceritanya. Tapi saat mengetahui hal tersebut, aku langsung kalang kabut. Walau kalang kabutnya bertahap secara pasti hingga hari Rabu tanggal 29 Januari 2013.
Semenjak itu aku menjadi khawatir, takut dan waswas. "Seandainya dia keluar, aku gimana?" kalimat itulah yang terbisik di dalam hatiku saat itu. Hal ini pun aku ceritakan kepada Novi/ Vio. Dan dia juga berusaha menenangkanku. Hingga waktu sholat Ashar tiba, aku sengaja datang terlambat karena dari awal aku sudah terlambat. Perjalanan turun ke lantai 1, aku bercakap-cakap dengan wali kelasnya, dan beliau memberitahuku bahwa keuputusan BB keluar belum bisa dipastikan pada hari itu juga. Disebabkan karena ketidakhadiran BB sendiri. Tapi kalau dalam versiku, wali kelasnya masih sedikit ragu, antara memberitahukan hal tsb, atau diam tentang hal itu (sambil mengelak).
Setelah kutunaikan sholat Ashar berjamaah, aku menanyakan salah seorang guru BK ku, yang kebetulan mengurusi masalah bolosnya BB dan kebetulan duduk tepat di samping kiriku. Awalnya aku tak mau menanyakan hal tersebut kepadannya. Karena aku tahu, berulang kali aku membahas tentangnya dan berulang kali pula beliau memberikan saran yang belum kuindahkan. Tapi perasaan itu berlalu saat ku mulai percakapan dengan "Pak boleh tanya nggak?".
Langsung saja kutanyakan tentang kepastian tentang permasalahannya. Beliau berkata bahwa sudah tidak memungkinkan lagi mempertahankan dia di Smamda. Bagimana tidak? selama ini dia berlindung dibalik guru,guru (entah itu wakasek atau BK,dll) Dia di pertahanin, dia dibantuin tapi tidak ada usaha dari dalam dirinya untuk membenahi dan memulai awal yang lebih baru lagi. Singkatnya tidak ada dorongan internal dari dalam diri seorang BB. Dan beliau juga bertutur dengan muka yang seolah-olah menyakinkan bahwa keputusan tersebut sudah bulat. Akan tetapi masih ada hari Selasa untuk menunggu perubahan dari seorang BB.
Hari itu aku takyut. Teman maupun guruku mengatakan bahwa kepastian dia keluar atau enggak itu hari Selasa. Aku tunggu dengan perasaan yang kurang tenang. Aku pun merencanakan untuk bolos pelajaran untuk sekedar melihat tampang orang tuanya. Sejauh ini aku hanya pernah tengok muka ibunya sahaja, tidak bapaknya.
Tapi rencana tersebut benar-benar terealisasikan di saat peajaran bahasa Inggris sedang berangsung. Sebelumnya, aku menjalani tes SKL 5 pelajaran Sosiologi, dan akan menjadi tidak mungkin untukku membolos, apalagi membolos sambil mengajak seorang kawan. Di saat pelajaran Sosiologi telah usai, kami (Rendra, Novia, Alin, Bregas) menuju ke ruangan wali kelas kami yang bertempat di MGMP Humaniora. Ruangannya dekat dengan tempat parkir Practica. Di sana kita meminjam rapot kita masing-masing, dengan tujuan untuk mengecek di PDSS apakah cocok atau terdapat suatu perbedaan dengan yang ada di cetakan rapor. Setelah kita mendapatkan rapot kita masing-masing, kita menuju ruangan wakasek dimana pengurusnya bernama bapak Mukhlasin mengurusi masalah itu. Tapi setelah darisana, kami berpisah dengan Bregas dan sebelumnya sempat bertemu dengan guru bahasa Inggris kami. Beliau mengatakan bahwa hari itu terdapat tes listening. Dan kita meminta ijin untuk itu. Tapi tak lama setelah itu,
Ke ruangan wakasek bertiga, dan saat di tempat, kami bertemu dengan teman kami yang lainnya yang berbeda kelas dengan tujuan yang sama, yaitu untuk mengurusi nilai yang berbeda. Terdapat banyak murid pada saat kami memasuki ruangan tersebut. Ada seorang murid yang membawa foto copian rapor yang banyak jumlahnya, dan dia meminta pertolonganku untuk merapikan kertas-kertas tersebut. Sangking banyaknya, terlintas dalam benakku untuk menemukan rapornya BB. Dan alhasil ketemu! Rapot yang kutemui adalah rapotnya pada saat dulu dia di kelas X. Walaupun nilainya tidak mengecoh mataku, tapi nama yang tertera pada selembar kertas itu mampu membuat mata sekaligus mulutku mengangan dalam waktu bersamaan!. Lantas ku menunjukannya pada Novia.
Tapi aku tidak terlalu konsen pada hal itu saat di ruangan tersebut. Yang aku lakukan setelah menemukan secarik kertas itu adalah mengecek rapotku dengan nilai yang tertera di PDSS ku. Setelah beberapa saat ku disana, kami menuju kelas yang dekat dengan practica. Dengan tujuan untuk mencari ibu Rika, guru ekonomi kita dulu di kelas XI. Karena beberapa dari kita mempunyai nilai yang berbeda antara yang ada di rapot, dengan yang ada di situs PDSS.
Akan tetapi sebelum itu, kita menuju ke BK. Aku yang mengajak mereka, karena mungkin ada orang tuanya BB disana. Beberapa kali aku ragu untuk memasuki ruangan BK. Dan perasaan ku yakin bahwa tidak ada ortunya di dalam sana. Lantas kita memasuki ruangan tersebut. Dan tak lama seteah itu, aku menanyakan guru BK nya bernama ibu Chandra Puji Lestari. Awalnya aku malu dan ragu untuk menceritakan kisah terlarangku ini. Tapi akhirnya aku menceritakannya dan menanyakan beliau tentang kepastian apakah BB jadi keluar atau masih bertahan, dan jawaban beliau adalah;
"KITA MASIH MELIHAT, APAKAH DALAM SATU MINGGU INI DIA ADA PERUBAHAN ATAU ENGGAK."
Intinnya, kepastian dia keluar atau enggak belum keluar (belum aku dapatkan). Dan beliau juga menuturkan bahwa p. Aris beserta wali kelasnya pada waktu itu sedang mengunjungi rumahnya. Disebabkan karena pada hari itu, pihak sekolah meminta orang tuanya BB beserta BB sendiri yang datang ke sekolah untuk meminta suatu kepastian.
Setelah selesai kunjungan ke BK, kita lalu mencari bu Rika, dengan tujuan yang sudah aku sebutkan diatas. Kita mencari di kelas dekat parkiran (Practica) dan kita tidak menemui beliau. Lalu kita mencari di MGMP Humaniora, dan kita pun tidak menemui beliau. Sampai pada akhirnya kita duduk di kursi depan pos satpam. Sambil bercanda-canda ria dengan satpam-satpam alay, aku melihat "recent updates" bbm ku. Terdapat recent updates dari salah seorang temanku yang intinya dia pajang status marah ke BB.
Dengan perasaan yang penasaran, aku menanyakan ada apa dengannya. Dan dia mengatakan;
"BB OUT"
Jawaban tersebut membuatku kaget. Benarkah hal tersebut terjadi? langsung Novia yang berada di sebelahku aku perlihatkan chat ku dengan saah seorang teman dekatnya BB.
Dan aku mengatakan kepada Vio;
"LEMES AKU NOV... . . "
Sekali lagi, Novia berusaha menyakinkanku dan menguatkanku. Dan setelah aku mengetahui hal tersebut, berangsur-angsur tubuhku mulai panas. Dan jika aku sudah demam, pasti semua tubuh ini merasakan pegal-pegal. Dan itu terjadi padaku. Disebabkan karena aku terlalu memikirkan hal tersebut. Saat sholat Dzuhur, hal yang paling kupikirkan adalah hal tersebut. Hingga berkhirnya waktu sholat berjamaah. Mediza (Deda) mengajakku untuk membeli es degan bersama Bregas pula. Dan saat kita duduk-duduk untuk menikmati air es degan, mereka berdua, terutama Mediza menanyakan hal tentang BB kepadaku. Dan darisitu aku bercerita banyak kepada mereka.
Hingga teman ku yang lain, aku suruh untuk bergabung dengan kami. Dia yang paling dekat dengan BB. Dan dia juga tahu lebih banyak tentang BB daripada diriku. Disana, kita bercerita banyak. Konsennya adalah aku di saat itu. Mereka bertiga mendengarkan cerita ku, mendengarkan perasaan ku saat itu, dan mendengarkan unek-unek ku saat itu. Teman dekatnya berkata kepadaku saat itu. Begini;
"BB ITU KALAU DIBILANGI KAYAK GINI (SAMBIL MENGHENTAKAN KEPALAN JARI KE BEBATUAN) TAPI KALAU UDAH ADA MASALAH KAYAK GINI (SAMBIL MEREMAS BISKUAT)"
Darisitu aku mendapatkan apa yang sebenarnya dia maksut. Maksutnya adalah dia dibilangi itu susahnya minta ampun. Tapi kalau udah kena masalah, seperti biskuit yang diremas (menandakan kerapuhan).
Dia menutukan bahwa dia dan juga teman-temannya yang lain berulang kali menasihati BB agar berhenti membolos. Karena jika dia membolos sekali lagi, tidak hanya dia yang kena, tapi hal tersebut juga akan berimbas kepada teman-teman dekatnya BB. Dan dari kejadian tersebut, aku diceritakan sedikit tentangnya. Tentang BB.
Saat perjalanan pulang, aku sudah merasakan gejala di tubuhku, bahwa tubuhku lambat laun sakit. Dan itu terjadi. Aku berusaha menyembunyikannya dari orang tua ku. Dan sesampainya di rumah, ingiku coba memberitahukan hal ini, tapi melihat kondisi ibuku yang belum sembuh total dari sakitnya, akhirnya ku batalkan keinginanku tersebut.
Saat aku les pun juga begitu, aku mengenakan masker, serta jaket ber-hoody. Sampai-sampai Dian pun menanyakan perbedaan ku pada malam itu. Dia juga bertanya kepadaku apakah aku sudah meminum obatku atau belum. Tapi moodku langsung berubah tatkala guruku di kelas memberikanku kertas yang ada konjugasi bahasa Perancisnya, dan kita di suruh mengisi kekosongan tersebut. Moodku seperti langsung melambung tinggi, entah kenapa. Padahal dulu sukar sekali ama yang namanya konjugasi. Bahkan sempat berhenti belajar bahasa Perancis disebabkan karena konjugasinya. Tapi pada hari Selasa malam rabu tersebut aku mendapat semangat dari hal itu. Sungguh aneh, tapi aku suka itu.
RABU, 29 JANUARI 2013: Hari ini adalah hari penentu. Penentu dia jadi keluar atau tidak. Pelajaran hari itu diawali dengan pelajaran bahasa Indonesia. Guru bahasa Indonesiaku adalah wali kelasnya BB. Dan pada pertemuan pagi itu, kami lebih membahas ujian praktek bahasa Indonesia kami yang dilaksanakan pada tanggal 1 Februari 2014 kemarin.
Akan tetapi, tak lama setelah itu, beliau ijin keluar. Dengan alasan ada wali murid yang hendak bertemu dengan beliau. Dan aku tahu siapa itu. Lantas secepatnya aku menoleh ke arah Novia, lalu mengajaknya pergi ke depan BK, untuk menengok rupanya bapaknya BB. Dalam perjalanan ke lantai dua, ternyata Dian juga mengikuti kami. Sehingga jumlah kami ganjil menjadi tiga. Saat tepat di depan pintu BK. aku sungguh bingung. Kalau aku masuk, nanti disangka modus sama wali kelasnya, terus kalau aku masuk, aku ngapain? Takutnya nanti wali kelasnya mikir kalau;
"Rendra kok cepet disini? ngapain??"
Pokoknya pikiranku pada waktu itu kalang kabut, acak-acak an. Bingung antara mau masuk atau menunggu di depan. Kebetulan di dalam ada bu Yuni (wali kelasku saat di kelas
XI IPS 1). Melihatku kebingungan, Novia menyarankan ku seperti anak yang tanya tentang rapot. Lalu tak pakai lama, ku menyetujui hal tersebut dan berlari dengan cepatnya kembali ke kelasku yang berada di lantai 5. Lalu turun dengan cepat dalam keadaan yang dimana pernapasanku tidak teratur (karena terburu-buru). Sesampainya di depan ruangan BK, kita ga langsung masuk, karena aku juga ragu lagi, dan karena kita menunggu Dian yang kembali naik mengambil rapotnya.
Dan setelah dia kembali ke lantai 2 dengan cepat, eh..... ternyata bu Yuni keluar dari BK. Buyar dong modusku... ARRGGHH... Tapi meski begitu, aku tetap menanyakan rapotku yang terdapat kejanggalan di dalamnya.
Pada saat berbincang-bincang, datanglah dua orang wanita, yang wajahnya pernah kutemui. Tak lain dan tak lain dia adalah ibu dan neneknya BB! Mereka memasuki BK. Dan tak lama setelah itu bapak, ibu, serta neneknya BB keluar dari BK menuju ruang rapat yang berada di ruang wakasek Smamda.
Oiya, sebelum itu, di BK, selain ada wali kelas nya BB, terlihat juga bu Chandra, sebagai guru BK nya, bu Anita sebagai wakasek kurikulum serta pak Astajab entah sebagai apa posisi pastinya. Mereka menemani wali dari BB menuju ke ruang rapat. Dan aku melihat bapaknya BB berjalan dengan tidak normal (sperti habis ditimpa sesuatu yang menggemparkan). Dan benar atau salah, itu memang terlihat dari gaya jalannya.
Novia menawarkan kalau aku juga modus ke wakasek dengan tujuan melihat apa yang terjadi. Tapi dengan mentah-mentah ku tolak hal tersebut.
Aku yang bukan siapa-siapanya menunggu layaknya aku orang yang penting buat dia, orang yang menjadi penting dalam hidupnya. Tapi kenyataannya tak seperti itu. Seperti yang aku katakan sebelumnya, aku sebenarnya bukan siapa-siapanya, dan memang bukan siapa-siapanya. Dan dia belum menyadari fungsiku disini. Fungsiku disini untuk dia.
Istirahat berlalu dan pertemuan mereka belum juga usai. Sampai aku dapat kabar bahwa, dia dan juga kakaknya baru datang dan menuju ruang rapat (bergabung bersama yang lainnya). Pelajaranku setelah waktu istirahat adalah pelajaran bahasa Arab. Dan di kelasku masih tersisa laptop serta speakernya guru bahasa Indonesiaku yang tadi ditinggal untuk menemui seorang wali murid.
Aku membereskannya dan hendak mengantarkan barang tersebut. Ditemani oleh Mediza dan juga Herdian Meirinda, sambil bercakap-cakap dengan guruku saat menunggu. Tak lama setelah itu, Dian keluar dan kembali ke kelas. Dan hanya tersisa Mediza bersamaku. Di saat kita memutuskan untuk keluar, dan menuju kamar mandi. Di perjalanan, kita bertemu dengan wali kelasnya BB yang baru saja dari kamar mandi. Bercampur rasa kecewa kuberikan tasnya. Lalu aku dan Mediza melanjutkan perjalanan ke kamar mandi. Tujuan utamaku adalah memang untuk memberikan tasnya. TAPI disamping itu, jika BB jadi keluar meninggalkan Smamda, aku ingin ngomong untuk yang terakhir kalinya kepadanya. Jika itu benar-benar terjadi.
Setelah itu, aku dan Mediza kembali ke kelas untuk mengikuti pelajaran. Dan sesampainya di kelas, sunyi senyap. Semuanya pada mengerjakan dan mempersiapkan materi untuk ujian praktek bahasa Arab.
Habis itu, aku dan Mediza kembali ke bawah. Dengan tujuan yang sama. Dan ternyata.......
DIA TIDAK JADI KELUAR ! DIA BERTAHAN!!!! YOOHOO!! . . .
Saat melewati ruang BK. Salah seorang temannya memanggilku, dan berkata;
"REN INI LO REN BB.. . ."
Mediza pun juga berkata;
"ITU LO REN, UDAH, NDANG NGOMONG SAMA BB ITU LO.."
Dan Alhamdulillah banget. entah kebetulan atau memang disengaja, teman sekelasku yang dekat dengannya menanyakan padaku tentang pelajaran kita saat ini. Dan aku jawab kalau pelajaran pada waktu itu adalah bahasa Arab. BB melewatiku dan kedua kawannya tetap di depanku. Seraya ku menanyakan salah seorang di antaranya,
"GIMANA BB????"
"OH GAPOPO KOK, MASIH DIPERTAHANO.."
"OH, (SAMBIL MENOLEH KE ARAH BB) TRES BIEN.."
Begitulah ceritanya 3 hari yang tak cukup disampaikan melalui rangkaian kata serta barisan kalimat serta tumpukan-tumpukan paragraf. Aku harap kalian tidak bosan melihat ini.
Dan makasih yang sudah menemaniku serta memberiku semangat pada saat ku galau dan gundah.
dan aku berharap buat BB;;
"AKU HARAP KAMU MENYADARI KU DISINI, MENYADARI FUNGSIKU DISNI. I'LL BE THERE 4 U AS FAR AS I CAN."