71 Tahun Indonesia

Bendera negara republik Indonesia.

MERDEKA MERDEKA!

Setelah lama tidak memosting postingan,baru, saat ini tepatnya tanggal 17 Agustus 2016 di hari perayaan kemerdekaan INDONESIA yang ke-71 tahun aku mempublikasikan postingan terbaru aku. 


       Oh iya, menurut kalian apa sih arti kemerdekaan itu? iya, arti kemerdekaan menurut versi kalian sendiri? Well, banyak yang bilang bahwa Indonesia sampai detik ini belum juga merdeka, yah setidaknya belum SEPENUHNYA merdeka, entah dari campur tangan orang asing, korupsi, kolusi, nepotisme, kriminal, kemiskinan dan juga masalah-masalah lainnya yang umum terjadi di banyak negara di dunia ini. Setuju nggak kira-kira kalian sama opini tersebut dan bagaimana tanggapan kalian tentang itu? 


ARTI KEMERDEKAAN


Salah satu foto peringatan 17 Agustus tahun 2013. -SMA

Kalau membahas tentang apa itu arti kemerdekaan, bisa-bisa tidak akan pernah ada habisnya. Bayangkan saja, setiap orang di dunia ini kan punya kepala yang berbeda pun juga pengalaman yang berbeda yang nantinya akan membedakan pula makna kemerdekaan menurut versi masing-masing. Walaupun Indonesia secara de Facto telah merdeka dari tangan penjajah sejak tahun 1945, tapi Indonesia masih saja menghadapi permasalahan-permasalahan yang tiada habisnya hingga saat ini. Yap itu sih wajar-wajar saja, dalam prakteknya negara selalu dan (akan) selalu menghadapi masalah-masalah, entah itu masalah baru ataupun masalah sama yang mungkin terulang di kemudian hari.

     Buat aku, arti kemerdekaan adalah dimana saat kita bisa lepas dari belenggu ketidakpastiaan yang datang dari diri kita sendiri. Maksudku, di luar sana kan pasti banyak anak yang sifatnya moody, ambivert, atau bahkan bipolar sampai tingkat akut. Haha, sebenarnya ini jadinya curhat. Karena aku sendiri masih sering labil dalam menyesuaikan diri dalam beberapa situasi. Ditambah lagi sama egoku yang masih melambung tinggi sampai ubun-ubunku. Terkadang itu sangat menyiksaku tapi di sisi lain itu merupakan suatu keunikan tersendiri yang membedakan antara "orang lain" dengan seorang "Rendra Nugraha."

Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat ialah orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah.(H.R Muslim) 

    Sejenak sabda nabi Muhammad S.A.W memang benar adanya, dan bahwasanya kita di dunia ini memang ditakdirkan untuk terus menerus berjuang melawan ketidakadilan,kejahatan, segala macam bentuk tindak kriminal dan tentunya, melawan hawa nafsu yang ada pada dalam diri kita sendiri. Dan memang betul adanya kalau dunia ini merupakan cobaan untuk umat manusia, dilihat dari banyak hal yang dilalui dari dulu kecil hingga saat ini kalian membaca postingan ini. Walaupun suatu saat nanti mungkin Tuhan menutup rapat semua pintu dan semua jendela, yang pasti Tuhan masih menyediakan kita satu pintu yang akan terus menerus terbuka lebar untuk kita para hambanya. Pintu untuk kembali kepadanya, pintu untuk berkeluh kesah dan bangkit lagi setelah mengalami hal buruk dalam hidup kita.

Jadi untuk kalian yang kebetulan saat ini membaca postinganku dan sedang dilanda sebuah musibah, jangan pernah menyerah sebisa mungkin, karena akan selalu ada hikmah di balik setiap kejadian yang menghampiri dalam hidup kita, baik kejadian buruk maupun kejadian baik.
Ngomong-ngomong aku pernah menemukan suatu kutipan yang bagus sekali untuk direnungkan tatkala kita semua dilanda musibah, yakni;


Di saat kita mendapatkan musibah, janganlah mengatakan "Apa jalan keluarnya?" tapi berpikirlah "Kenapa Tuhan memberikanku musibah seperti ini?"

     Kenapa seperti itu? Karena kita acapkali sebagai insan yang berlumur dosa, seringkali mencari jalan keluar terlebih dahulu tanpa merenungkan terlebih dahulu mengenai sebab Tuhan memberikan suatu hal kepada kita, salah satunya musibah.


Posted by
Rendra Nugraha

More

2016

Sedikit kutipan sederhana :)

ASSALAMUALAIKUM SEMUA!!!! 

   Setelah sekian lama dari postingan terakhir bertanggal 4 maret 2014 sampai pada postingan kali ini, tanggal 30 Januari 2016. Cukup lama memang, setahun lebih beberapa bulan. Maaf juga karena aku kurang konsisten dalam menulis di blog ini. Sebenarnya dari bulan Maret 2014 sampai penghujung Januari 2016 ini telah banyak hal yang terjadi, baik yang menyenangkan maupun yang menyebabkan dada sesak karena betapa menyedihkannya hal-hal yang telah kualami.

   Pertengahan 2014 ke 2016 memang singkat, tapi akan sangat terasa panjang tatkala kita hendak menjabarkan beberapa kejadian-kejadian penting dalam bentuk tulisan seperti ini. Dan aku pun juga merasa bahwa kemampuanku mengolah kata menjadi susunan kalimat-kalimat yang indah (menurutku) juga menurun. Entah, mungkin karena sudah lama tidak memposting sebuah tulisan di blog ini.

Hey teman-teman, aku rasa sampai sini sahaja pembukaanku setelah SEKIAN LAMA tidak memposting perjalanan hidupku di blog elektronikku ini. Untuk selanjutnya aku akan menceritakan banyak hal yang telah aku lewati semenjak aku meninggalkan blog ini hingga saat ini. Sekian

Posted by
Rendra Nugraha

More

Semua Bisa Jadi yang Terakhir




Pernah tak kamu merasa galau akan sesuatu? Galau akan sesuatu di saat waktu yang benar-benar tidak tepat. Memang perasaan itulah yang kurasakan saat menulis postingan ini. H-15 UN SMA tahun ajaran 2013-2014. Terbayang gimana jadinya. Berpisah yang benar-benar berpisah. Dahulu, aku sangat tidak rela menerima status sebagai alumni "SMP Muhammadiyah 5 Surabaya". Tapi setelah menjalani beberapa tahapan di Smamda, aku mendapat banyak pelajaran. Dan begitu pula dengan perasaanku ke Spemma. Terkikis tapi membekas. Berkurang tapi tetap tersimpan. Sayangnya gedungnya telah dihancurkan, sehingga berkurang pula satu "fasilitas" untuk mengenang semua yang telah ku lalui di sana.

      Sebenarnya, yang membuatku gundah saat ini bukanlah hal itu. Tapi kegalauan ini baru muncul dan mempengaruhi akalku di saat pendaftaran SNMPTN tutup. Ini aku tulis tanggal 29 Maret 2014. Dan pendaftarannya ditutup pada akhir Maret. Aku menulis SNMPTN ku di Universitas Brawijaya, jurusan Sastra Perancis sebagai pilihan pertama, dan Bisnis Pariwisata sebagai pilihan kedua sekaligus yang terakhir. Tapi kalau kupikir-pikir lagi, ternyata disana aku memang "ngekos". 
                 Dan selama aku hidup 17 tahun, aku belum pernah meninggalkan Surabaya, kota kelahiranku, dan berpindah ke tempat lainnya. Aku pun belum pernah tinggal di suatu tempat tanpa keluargaku selama bertahun-tahun. Sedangkan daku kuliah selama 4 tahun (Amiin). Dan daku pun tak pernah tinggal di tempat lain tanpa orang tua dan saudara-saudaraku. Paling lama pun itu di Pare, hanya 1 minggu.

                Entah bagaimanapun aku harus meyakinkan diriku, jangan sampai terlarut dalam samudera kebimbangan. Karena hal itu akan mempengaruhi diriku dan juga mentalku. Mungkin memang benar kata salah seorang guruku, beliau berkata;

"Mulai sekarang tata kehidupanmu, dan BERPIKIRLAH POSITIF.."

          Walau tak semudah bertutur, tapi apa salahnya jika tak dicoba dan yang paling penting diyakini. Rendra itu orangnya terpusat. Segala sesuatunya digerakkan oleh hatinya. Jangan tanya soal kenyamanan. Hal tersebut secara otomatis telah memasuki hal itu. Apabila hati in tak nyaman berada di suatu tempat, atau tak nyaman dengan kehadiran seseorang, maka saya pun tak nyaman. Dalam hal ini memang terlihat, bahwa seorang Rendra kurang mampu mengontrol dirinya. Tapi daku juga memahami bahwa manusia kan terus belajar di kehidupannya. Tapi setiap orang mempunyai waktu yang berbeda-beda bukan??

Walaupun begitu, aku juga harus belajar mengecap "duka nestapa" atau seminimal mungkin, "ketidaknyamanan" lah. Dan mengsugesti hati ini bahwa hal itu adalah sesuatu yang nyaman adanya. Tapi apadaya. daku akan berusaha dengan mengucapkan;


"Bismillahirahmanirahim.."

Posted by
Rendra Nugraha

More

PINTA HATI KECILKU


             Saat kegalauan bersemayam di hati, saat kegelisahan merundung kalbu, saat kebingungan menyumbat cahaya hati, saat keputusasaan menghancurkan asa. 
Memang setiap insan mempunyai masalah yang berbeda-beda, begitu pula dengan jalan hidup mereka masing-masing. Aku pun insan yang selalu diterpa ujian, cobaan, caci makian dan stagnansasi kehidupan, yang mana pasti masalahku berbeda dengan masalah orang lain di dunia ini. Walau terkadang ku menyadari mengapa Raja langit dan Bumi memberikanku beban semacam itu. Tapi terkadang ku kalah melawan setan yang tumpangannya adalah hawa nafsuku sehingga terkadang pula aku berputus asa dari rahmat-Nya.

            Aku terlahir sebagai lelaki. Orang-orang menyebutku tidak normal. Perbedaan yang sangat jelas tampak tatkala aku bergaul dengan lelaki yang berjalan sesuai dengan kodratnya. Mereka berbicara, mereka bertingkah, mereka bertindak layaknya lelaki yang diidam-idamkan. Berjalan pada jalannya, berbicara sesuai dengan gayanya, dan bertingkah sesuai dengan kodrat yang ditentukan kepadanya.
    
          Sementara, tengok diriku? alangkah terlambatnya diriku menyadari semua ini, bahwa aku berjalan belok dari kodratku yang sebenarnya. Pada usiaku yang ke 17. Tepatnya pada penghujung tahun 2013. 
Kalbu ini rasanya seperti dikagetkan oleh ledakan kekecewaan yang membuat mataku tak bisa membendung air yang ada di dalamnya. Sedih di dalam hati, menangis tatkala sepi, murung di depan banyak orang. Dari mereka ada yang memperhatikan raut wajahku dan menanyakan tentang apa yang sedang melandaku. Tapi apa daya? aku tak bisa memberitahu mereka semua. Memang mereka yang peduli denganku adalah orang yang terbuka kepadaku. Bahkan membagikan rahasianya kepadaku.
          (Tapi bukan rahasia jika terdapat lebih dari satu orang yang mengetahuinya). Aku menghargai sikap terbuka mereka. Aku acungkan ibu jariku di saat mereka membagikan "rahasia" nya padaku. Dan aku pun merasa berharga tatkala aku menjadi seorang insan yang kecil tetapi menyimpan rahasia besar dari seorang insan lainnya. Wallahu'alam.
Mungkin memang hatiku yang kurang syukur atas nikmat-Nya. Mungkin mata ini yang kurang memperhatikan Keagungan-Nya yang tersebar luas di hamparan bumi yang luas. Mungkin kedua telinga ini yang kurang mau mendengarkan kebenaran dan lantunan suci Firman-Nya. Dan mungkin mata hati ini yang tertutupi dengan kenodaan jiwa serta kenistaan hati yang telah ku lakukan selama aku menghirup udara-Nya.

Merasa terkucil, merasa terasing, merasa sebagai sampah adalah perasaan yang aku rasa manakala aku bergabung dengan lelaki yang lainnya. Terkadang hatiku menyahutku dengan kata-kata yang mengucilkanku. Dan aku lebih tahu sebenarnya bahwa itu bukanlah suara hatiku. Nurani selalu mengatakan kata indah Ilahi.
              Aku pun tahu jika tak ada yang sia-sia dalam penciptaan-Nya. Dia menciptakan, dia pula yang merencanakan. Tapi apa daya? diriku adalah manusia cacat yang penuh akan noda hitam. Yang dibekali oleh nafsu sekaligus akal oleh-Nya. 
 Akan tetapi,
            Muncul pertanyaan;

"Tuhan mengapa engkau memilihku menjadi manusia yang berjalan belok dari kodrat yang engkau gariskan kepadaku? Mengapa harus aku? mengapa diriku? Apa makna yang tersirat dibalik ujianmu ini? Apakah saya tergolong orang sakit? sakit jiwanya, cacat mentalnya??"

     Aku sadar. Tuhan memang baik. Memberikanku rizki, orang tua, kebahagiaan, pertemanan, persahabatan, canda,tawa, senyum, keramahan, oksigen, makanan, minuman, ilmu dan Islam. Akan tetapi pertanyaan itu masih terngiang setiap ku kosong. Kapan jawaban itu muncul ke permukaan? dan kapankah aku bisa benar-benar memaknainya?

          Terima kasih untuk orang yang telah terbuka kepadaku dan membagikan sebahagian daripada rahasianya. Tetapi diri ini menghanturkan permintaan maaf yang sebesar-besarnya atas diri ini yang melakukan blokade hati. Sehingga menyebabkan aku tertutup. Karena aku tahu. Tak ada yang bisa betul-betul memahami hati dan segala perkataanya kecuali Dia yang menciptakannya.
     Karena kadangkala aku pun ingin di mengerti, aku pun ingin untuk dipahami. Aku pun ingin untuk dicintai oleh orang yang kucinta. Tapi hidup ini adalah panggung sandiwara yang keras. Sedangkan diri ini lemah bagaikan daun yang mudah terkoyak. Maka dari itu, kekuatan dan semangat eksternal sangat sakral nilainya bagiku untuk tetap bisa menjalani berbagai "skenario" hidup yang Tuhan menyuruhku untuk berperan di dalamnya.
      
           Terima kasih telah menjadi temanku, menjadi keluargaku, menjadi orang yang tetap "mau" mendengarkan curhatan BBM ku, terima kasih pula kepada orang-orang yang telah menjadi guruku, baik secara formal maupun non-formal. Terima kasih tentunya kepada Allah SWT yang telah memberiku kesempatan untuk menceritakan secuil kisah seorang manusia kecil di saat ujian sekolah (Mat-Sosio).

 Terima Kasih sebanyak-banyaknya Rendra Nugraha sampaikan kepada semua yang aku ingat maupun yang terlupakan. Yang berjasa, maupun yang tidak. Yang menetap maupun yang sekedar lewat, yang mengajari dan yang kuajari.





Posted by
Rendra Nugraha

More

Rien du Tout




Karena bosan dan suntuk, jadinya saya posting se folder "Rien du tout". Enjoy!

TAKEN BY CAMERA 360






































Posted by
Rendra Nugraha

More

Penutupan Januari


   Pekan terakhir di bulan Januari adalah pekan yang mendebarkan bagiku. Bagaimana tidak? kamu sayang orang lain, dan orang itu terancam terdeportasi dari sekolahmu? Apalagi sekarang menjelang berakhirnya masa-masa SMA. Apalagi kamu belum tentu bertemu dia kelak di lain kesempatan. Dan pekan terakhir Januari adalah waktu dimana aku mengalami itu semua.
      Seperti yang kalian ketahui pada postingan sebelumnya, aku menyayangi orang berinisial BB (bagi kalian yang kenal dekat denganku mungkin tahu). Dan dia banyak berubah dari kelas ke kelas, dari tingkat ke tingkat. Entah itu positif, atau negatif. Tapi yang paling menonjol dari dia adalah perubahan yang terus menerus negatif dalam bidang akademiknya. Yang pernah melewati SD, SMP ataupun SMA pasti sekurang-kurangnya pernah merasakan "bolos". Aku pun juga pernah melakukannya dan pernah merasakan bagaimana tertangkap basah saat ortu ku tahu aku membolos. Tapi untuk masalah dia berbeda. Dari kelas XI, terlihat perubahan yang terus menerus menurun. BB jadi semakin sering membolos. Entah itu sendiri ataupun dengan kawan-kawannya. Hingga sampai kemarin tanggal 27 Januari 2013.

 SENIN, 27 JANUARI 2013: Menurut seorang teman sekelasnya yang aku tanyakan tentang dirinya, pada hari tersebut, dia tidak masuk sekolah karena alasan sakit. Tapi justru saat ku bertatap muka dengan teman dekatnya, justru mereka menanyakanku tentang kenapa BB tidak masuk sekolah. Simpel saja aku menjawab dalam hati;

"Lo kenapa mereka tanya aku?? aku siapa nya? aku aja nggak deket sama dia.."

     Kejadian tersebut membuatku bingung. Tidak hanya satu teman dekatnya saja yang bertanya kepadaku tentang kehadirannya pada hari itu, melainkan beberapa orang. Termasuk teman sekelasku sendiri. Darisana aku berpikir; "sebenarnya dia itu sakit beneran atau bolos?" Kalau dia bolos sekali lagi, maka sanksinya adalah keluar dari sekolah. Karena jika kita tengok ke belakang, BB sudah terkena SP2 (surat peringatan 2). Dimana SP2 adalah peringatan terakhir. Dan jika seorang terdakwa melakukan kesalahan lagi, maka sanksinya adalah dideportasi alias keluar. Siapa yang mau dia keluar? Hari itu aku jalani dengan sedikit waswas dan khawatir. Aku pun menyadarinya, mengapa aku harus mengkhawatrikan dia? Jika ku menggunakan logika serta akal sehatku, yang aku dapatkan adalah;

"Aku bukan siapa-siapanya, aku bukanlah ibunya, aku bukanlah bapaknya. Dan aku juga bukanlah salah satu saudaranya. Tapi kenapa aku mengkhawatirkan dia layaknya seorang ibu yang mengkhawatirkan anaknya? Toh pernah ta terlintas di pikirannya tentang aku? memikirkan aku? apalagi mengkhawatirkan diriku??"

    Itulah hal yang aku dapatkan saat akal sehat ku ini berbicara. Tapi beda hal jika sanubari yang bercakap. Aku pasti masih mengkhawatirkannya dan terus mengkhawatirkannya. Dan itulah yang terjadi kepadaku hingga hari-hari selanjutnya.
   Hari itu masih kujalani dengan perasaan waswas dan sedikit khawatir tentangnya, hingga waktu menjelang pulang sekolah. Salah seorang temanku mengatakan bahwa barusan orang tua nya mendatangi BK. Dan meminta kepastian dari BB. Bahkan sempat dikatakan bahwa BK mengatakan;

"Jika BB tak datang sampai pelajaran terakhir, maka sanksi akan berlaku."

Ada dua teman dekatnya yang kebetulan sekelas denganku. Watak dan sifatnya tak jauh berbeda dengan seorang BB (tapi pasti terdapat perbedaan diantara mereka). Mereka berdua mengatakan yang serupa kepadaku, bahwa orang tuanya BB barusan saja datang ke BK. Walaupun diantara mereka berdua mempunyai perbedaan versi ceritanya. Tapi saat mengetahui hal tersebut, aku langsung kalang kabut. Walau kalang kabutnya bertahap secara pasti hingga hari Rabu tanggal  29 Januari 2013.   
        Semenjak itu aku menjadi khawatir, takut dan waswas. "Seandainya dia keluar, aku gimana?" kalimat itulah yang terbisik di dalam hatiku saat itu. Hal ini pun aku ceritakan kepada Novi/ Vio. Dan dia juga berusaha menenangkanku. Hingga waktu sholat Ashar tiba, aku sengaja datang terlambat karena dari awal aku sudah terlambat. Perjalanan turun ke lantai 1, aku bercakap-cakap dengan wali kelasnya, dan beliau memberitahuku bahwa keuputusan BB keluar belum bisa dipastikan pada hari itu juga. Disebabkan karena ketidakhadiran BB sendiri. Tapi kalau dalam versiku, wali kelasnya masih sedikit ragu, antara memberitahukan hal tsb, atau diam tentang hal itu (sambil mengelak).

Setelah kutunaikan sholat Ashar berjamaah, aku menanyakan salah seorang guru BK ku, yang kebetulan mengurusi masalah bolosnya BB dan kebetulan duduk tepat di samping kiriku. Awalnya aku tak mau menanyakan hal tersebut kepadannya. Karena aku tahu, berulang kali aku membahas tentangnya dan berulang kali pula beliau memberikan saran yang belum kuindahkan. Tapi perasaan itu berlalu saat ku mulai percakapan dengan "Pak boleh tanya nggak?".
    Langsung saja kutanyakan tentang kepastian tentang permasalahannya. Beliau berkata bahwa sudah tidak memungkinkan lagi mempertahankan dia di Smamda. Bagimana tidak? selama ini dia berlindung dibalik guru,guru (entah itu wakasek atau BK,dll) Dia di pertahanin, dia dibantuin tapi tidak ada usaha dari dalam dirinya untuk membenahi dan memulai awal yang lebih baru lagi. Singkatnya tidak ada dorongan internal dari dalam diri seorang BB. Dan beliau juga bertutur dengan muka yang seolah-olah menyakinkan bahwa keputusan tersebut sudah bulat. Akan tetapi masih ada hari Selasa untuk menunggu perubahan dari seorang BB.


SELASA, 28 JANUARI 2013: Saat ku memasuki kelas, duduk dan menjalani kegiatan seperti biasanya, aku tak sepenuhnya seperti biasanya. Gundah,bingung, khawatir seolah-olah bergabung menjadi satu dan berinkarnasi menjadi wujud perasaan yang baru. Salah satu temanku yang mengetahui ku seperti itu adalah Novia Choirun Nisa, yang kebetulan sekelas denganku (lihat halaman "tentang"). Dia menyemangatiku seolah-olah dia mengatakan "il faut garder le sourire, Rendra". Bagaimana tidak, aku takut sekali kalau dia beneran keluar secara memalukan dari Smamda. Dan jikalau itu terjadi, jadi apa aku??

   Hari itu aku takyut. Teman maupun guruku mengatakan bahwa kepastian dia keluar atau enggak itu hari Selasa. Aku tunggu dengan perasaan yang kurang tenang. Aku pun merencanakan untuk bolos pelajaran untuk sekedar melihat tampang orang tuanya. Sejauh ini aku hanya pernah tengok muka ibunya sahaja, tidak bapaknya.
      Tapi rencana tersebut benar-benar terealisasikan di saat peajaran bahasa Inggris sedang berangsung. Sebelumnya, aku menjalani tes SKL 5 pelajaran Sosiologi, dan akan menjadi tidak mungkin untukku membolos, apalagi membolos sambil mengajak seorang kawan. Di saat pelajaran Sosiologi telah usai, kami (Rendra, Novia, Alin, Bregas)  menuju ke ruangan wali kelas kami yang bertempat di MGMP Humaniora. Ruangannya dekat dengan tempat parkir Practica. Di sana kita meminjam rapot kita masing-masing, dengan tujuan untuk mengecek di PDSS apakah cocok atau terdapat suatu perbedaan dengan yang ada di cetakan rapor. Setelah kita mendapatkan rapot kita masing-masing, kita menuju ruangan wakasek dimana pengurusnya bernama bapak Mukhlasin mengurusi masalah itu. Tapi setelah darisana, kami berpisah dengan Bregas dan sebelumnya sempat bertemu dengan guru bahasa Inggris kami. Beliau mengatakan bahwa hari itu terdapat tes listening. Dan kita meminta ijin untuk itu. Tapi tak lama setelah itu,

     Ke ruangan wakasek bertiga, dan saat di tempat, kami bertemu dengan teman kami yang lainnya yang berbeda kelas dengan tujuan yang sama, yaitu untuk mengurusi nilai yang berbeda. Terdapat banyak murid pada saat kami memasuki ruangan tersebut. Ada seorang murid yang membawa foto copian rapor yang banyak jumlahnya, dan dia meminta pertolonganku untuk merapikan kertas-kertas tersebut. Sangking banyaknya, terlintas dalam benakku untuk menemukan rapornya BB. Dan alhasil ketemu! Rapot yang kutemui adalah rapotnya pada saat dulu dia di kelas X. Walaupun nilainya tidak mengecoh mataku, tapi nama yang tertera pada selembar kertas itu mampu membuat mata sekaligus mulutku mengangan dalam waktu bersamaan!. Lantas ku menunjukannya pada Novia.
     Tapi aku tidak terlalu konsen pada hal itu saat di ruangan tersebut. Yang aku lakukan setelah menemukan secarik kertas itu adalah mengecek rapotku dengan nilai yang tertera di PDSS ku. Setelah beberapa saat ku disana, kami menuju kelas yang dekat dengan practica. Dengan tujuan untuk mencari ibu Rika, guru ekonomi kita dulu di kelas XI. Karena beberapa dari kita mempunyai nilai yang berbeda antara yang ada di rapot, dengan yang ada di situs PDSS.

    Akan tetapi sebelum itu, kita menuju ke BK. Aku yang mengajak mereka, karena mungkin ada orang tuanya BB disana. Beberapa kali aku ragu untuk memasuki ruangan BK. Dan perasaan ku yakin bahwa tidak ada ortunya di dalam sana. Lantas kita memasuki ruangan tersebut. Dan tak lama seteah itu, aku menanyakan guru BK nya bernama ibu Chandra Puji Lestari. Awalnya aku malu dan ragu untuk menceritakan kisah terlarangku ini. Tapi akhirnya aku menceritakannya dan menanyakan beliau tentang kepastian apakah BB jadi keluar atau masih bertahan, dan jawaban beliau adalah;

"KITA MASIH MELIHAT, APAKAH DALAM SATU MINGGU INI DIA ADA PERUBAHAN ATAU ENGGAK."

   Intinnya, kepastian dia keluar atau enggak belum keluar (belum aku dapatkan). Dan beliau juga menuturkan bahwa p. Aris beserta wali kelasnya pada waktu itu sedang mengunjungi rumahnya. Disebabkan karena pada hari itu, pihak sekolah meminta orang tuanya BB beserta BB sendiri yang datang ke sekolah untuk meminta suatu kepastian.
   Setelah selesai kunjungan ke BK, kita lalu mencari bu Rika, dengan tujuan yang sudah aku sebutkan diatas. Kita mencari di kelas dekat parkiran (Practica) dan kita tidak menemui beliau. Lalu kita mencari di MGMP Humaniora, dan kita pun tidak menemui beliau. Sampai pada akhirnya kita duduk di kursi depan pos satpam. Sambil bercanda-canda ria dengan satpam-satpam alay, aku melihat "recent updates" bbm ku. Terdapat recent updates dari salah seorang temanku yang intinya dia pajang status marah ke BB.

   Dengan perasaan yang penasaran, aku menanyakan ada apa dengannya. Dan dia mengatakan;

"BB OUT"

Jawaban tersebut membuatku kaget. Benarkah hal tersebut terjadi? langsung Novia yang berada di sebelahku aku perlihatkan chat ku dengan saah seorang teman dekatnya BB. 
Dan aku mengatakan kepada Vio;

"LEMES AKU NOV... . . "
   
       Sekali lagi, Novia berusaha menyakinkanku dan menguatkanku. Dan setelah aku mengetahui hal tersebut, berangsur-angsur tubuhku mulai panas. Dan jika aku sudah demam, pasti semua tubuh ini merasakan pegal-pegal. Dan itu terjadi padaku. Disebabkan karena aku terlalu memikirkan hal tersebut. Saat sholat Dzuhur, hal yang paling kupikirkan adalah hal tersebut. Hingga berkhirnya waktu sholat berjamaah. Mediza (Deda) mengajakku untuk membeli es degan bersama Bregas pula. Dan saat kita duduk-duduk untuk menikmati air es degan, mereka berdua, terutama Mediza menanyakan hal tentang BB kepadaku. Dan darisitu aku bercerita banyak kepada mereka.

    Hingga teman ku yang lain, aku suruh untuk bergabung dengan kami. Dia yang paling dekat dengan BB. Dan dia juga tahu lebih banyak tentang BB daripada diriku. Disana, kita bercerita banyak. Konsennya adalah aku di saat itu. Mereka bertiga mendengarkan cerita ku, mendengarkan perasaan ku saat itu, dan mendengarkan unek-unek ku saat itu. Teman dekatnya berkata kepadaku saat itu. Begini;

"BB ITU KALAU DIBILANGI KAYAK GINI (SAMBIL MENGHENTAKAN KEPALAN JARI KE BEBATUAN) TAPI KALAU UDAH ADA MASALAH KAYAK GINI (SAMBIL MEREMAS BISKUAT)"

     Darisitu aku mendapatkan apa yang sebenarnya dia maksut. Maksutnya adalah dia dibilangi itu susahnya minta ampun. Tapi kalau udah kena masalah, seperti biskuit yang diremas (menandakan kerapuhan).
    Dia menutukan bahwa dia dan juga teman-temannya yang lain berulang kali menasihati BB agar berhenti membolos. Karena jika dia membolos sekali lagi, tidak hanya dia yang kena, tapi hal tersebut juga akan berimbas kepada teman-teman dekatnya BB. Dan dari kejadian tersebut, aku diceritakan sedikit tentangnya. Tentang BB.
   Saat perjalanan pulang, aku sudah merasakan gejala di tubuhku, bahwa tubuhku lambat laun sakit. Dan itu terjadi. Aku berusaha menyembunyikannya dari orang tua ku. Dan sesampainya di rumah, ingiku coba memberitahukan hal ini, tapi melihat kondisi ibuku yang belum sembuh total dari sakitnya, akhirnya ku batalkan keinginanku tersebut.
     Saat aku les pun juga begitu, aku mengenakan masker, serta jaket ber-hoody. Sampai-sampai Dian pun menanyakan perbedaan ku pada malam itu. Dia juga bertanya kepadaku apakah aku sudah meminum obatku atau belum. Tapi moodku langsung berubah tatkala guruku di kelas memberikanku kertas yang ada konjugasi bahasa Perancisnya, dan kita di suruh mengisi kekosongan tersebut. Moodku seperti langsung melambung tinggi, entah kenapa. Padahal dulu sukar sekali ama yang namanya konjugasi. Bahkan sempat berhenti belajar bahasa Perancis disebabkan karena konjugasinya. Tapi pada hari Selasa malam rabu tersebut aku mendapat semangat dari hal itu. Sungguh aneh, tapi aku suka itu.


RABU, 29 JANUARI 2013: Hari ini adalah hari penentu. Penentu dia jadi keluar atau tidak. Pelajaran hari itu diawali dengan pelajaran bahasa Indonesia. Guru bahasa Indonesiaku adalah wali kelasnya BB. Dan pada pertemuan pagi itu, kami lebih membahas ujian praktek bahasa Indonesia kami yang dilaksanakan pada tanggal 1 Februari 2014 kemarin.
    Akan tetapi, tak lama setelah itu, beliau ijin keluar. Dengan alasan ada wali murid yang hendak bertemu dengan beliau. Dan aku tahu siapa itu. Lantas secepatnya aku menoleh ke arah Novia, lalu mengajaknya pergi ke depan BK, untuk menengok rupanya bapaknya BB. Dalam perjalanan ke lantai dua, ternyata Dian juga mengikuti kami. Sehingga jumlah kami ganjil menjadi tiga. Saat tepat di depan pintu BK. aku sungguh bingung. Kalau aku masuk, nanti disangka modus sama wali kelasnya, terus kalau aku masuk, aku ngapain? Takutnya nanti wali kelasnya mikir kalau;
"Rendra kok cepet disini? ngapain??"

   Pokoknya pikiranku pada waktu itu kalang kabut, acak-acak an. Bingung antara mau masuk atau menunggu di depan. Kebetulan di dalam ada bu Yuni (wali kelasku saat di kelas XI IPS 1). Melihatku kebingungan, Novia menyarankan ku seperti anak yang tanya tentang rapot. Lalu tak pakai lama, ku menyetujui hal tersebut dan berlari dengan cepatnya kembali ke kelasku yang berada di lantai 5. Lalu turun dengan cepat dalam keadaan yang dimana pernapasanku tidak teratur (karena terburu-buru). Sesampainya di depan ruangan BK, kita ga langsung masuk, karena aku juga ragu lagi, dan karena kita menunggu Dian yang kembali naik mengambil rapotnya.
   Dan setelah dia kembali ke lantai 2 dengan cepat, eh..... ternyata bu Yuni keluar dari BK. Buyar dong modusku... ARRGGHH... Tapi meski begitu, aku tetap menanyakan rapotku yang terdapat kejanggalan di dalamnya.
     Pada saat berbincang-bincang, datanglah dua orang wanita, yang wajahnya pernah kutemui. Tak lain dan tak lain dia adalah ibu dan neneknya BB! Mereka memasuki BK. Dan tak lama setelah itu bapak, ibu, serta neneknya BB keluar dari BK menuju ruang rapat yang berada di ruang wakasek Smamda.
   Oiya, sebelum itu, di BK, selain ada wali kelas nya BB, terlihat juga bu Chandra, sebagai guru BK nya, bu Anita sebagai wakasek kurikulum serta pak Astajab entah sebagai apa posisi pastinya. Mereka menemani wali dari BB menuju ke ruang rapat. Dan aku melihat bapaknya BB berjalan dengan tidak normal (sperti habis ditimpa sesuatu yang menggemparkan). Dan benar atau salah, itu memang terlihat dari gaya jalannya.

     Novia menawarkan kalau aku juga modus ke wakasek dengan tujuan melihat apa yang terjadi. Tapi dengan mentah-mentah ku tolak hal tersebut.
 Aku yang bukan siapa-siapanya menunggu layaknya aku orang yang penting buat dia, orang yang menjadi penting dalam hidupnya. Tapi kenyataannya tak seperti itu. Seperti yang aku katakan sebelumnya, aku sebenarnya bukan siapa-siapanya, dan memang bukan siapa-siapanya. Dan dia belum menyadari fungsiku disini. Fungsiku disini untuk dia.

   Istirahat berlalu dan pertemuan mereka belum juga usai. Sampai aku dapat kabar bahwa, dia dan juga kakaknya baru datang dan menuju ruang rapat (bergabung bersama yang lainnya). Pelajaranku setelah waktu istirahat adalah pelajaran bahasa Arab. Dan di kelasku masih tersisa laptop serta speakernya guru bahasa Indonesiaku yang tadi ditinggal untuk menemui seorang wali murid.
    Aku membereskannya dan hendak mengantarkan barang tersebut. Ditemani oleh Mediza dan juga Herdian Meirinda, sambil bercakap-cakap dengan guruku saat menunggu. Tak lama setelah itu, Dian keluar dan kembali ke kelas. Dan hanya tersisa Mediza bersamaku. Di saat kita memutuskan untuk keluar, dan menuju kamar mandi. Di perjalanan, kita bertemu dengan wali kelasnya BB yang baru saja dari kamar mandi. Bercampur rasa kecewa kuberikan tasnya. Lalu aku dan Mediza melanjutkan perjalanan ke kamar mandi. Tujuan utamaku adalah memang untuk memberikan tasnya. TAPI disamping itu, jika BB jadi keluar meninggalkan Smamda, aku ingin ngomong untuk yang terakhir kalinya kepadanya. Jika itu benar-benar terjadi.

  Setelah itu, aku dan Mediza kembali ke kelas untuk mengikuti pelajaran. Dan sesampainya di kelas, sunyi senyap. Semuanya pada mengerjakan dan mempersiapkan materi untuk ujian praktek bahasa Arab.

Habis itu, aku dan Mediza kembali ke bawah. Dengan tujuan yang sama. Dan ternyata.......

DIA TIDAK JADI KELUAR ! DIA BERTAHAN!!!! YOOHOO!! . . . 

Saat melewati ruang BK. Salah seorang temannya memanggilku, dan berkata;

"REN INI LO REN BB.. . ."

 Mediza pun juga berkata;

"ITU LO REN, UDAH, NDANG NGOMONG SAMA BB ITU LO.."

Dan Alhamdulillah banget. entah kebetulan atau memang disengaja, teman sekelasku yang dekat dengannya menanyakan padaku tentang pelajaran kita saat ini. Dan aku jawab kalau pelajaran pada waktu itu adalah bahasa Arab. BB melewatiku dan kedua kawannya tetap di depanku. Seraya ku menanyakan salah seorang di antaranya,

"GIMANA BB????"
"OH GAPOPO KOK, MASIH DIPERTAHANO.."
"OH, (SAMBIL MENOLEH KE ARAH BB) TRES BIEN.."

Begitulah ceritanya 3 hari yang tak cukup disampaikan melalui rangkaian kata serta barisan kalimat serta tumpukan-tumpukan paragraf. Aku harap kalian tidak bosan melihat ini.
Dan makasih yang sudah menemaniku serta memberiku semangat pada saat ku galau dan gundah.

dan aku berharap buat BB;;


"AKU HARAP  KAMU MENYADARI KU DISINI, MENYADARI FUNGSIKU DISNI. I'LL BE THERE 4 U AS FAR AS I CAN."

Posted by
Rendra Nugraha

More

SPEMMA DI HATI


SPEMMA


      Begitulah akronimnya. Aku belum pernah merasakan rasa yang seperti ini. Walaupun aku secara resmi lulus pada tahun 2011, dan di wisuda pada tanggal 19 Juni 2011. Jiwa ini seperti masih mempunyai keterikatan dengan sekolah itu. Entah itu datang darimana. Dahulu sekali, setelah aku lulus dari SD Integral Luqman Al-Hakim Surabaya, aku bingung ingin masuk mana. Kondisiku saat itu tidak tahu dengan jelas apa itu SMP, bagaimana sistemnya, apa saja perbedaannya antara SD dgn SMP. Dan aku juga tidak tahu SMP mana yang benar-benar cocok untuk seorang Rendra Nugraha.

        Aku pun dulu bermimpi untuk bisa sekolah di SMP favorit di kotaku, tepatnya di SMP negeri 6. Impianku saat itu adalah bertemu dengan seorang anak nasrani (entah Kristen,Katolik,Protestan,Advent,dsb). Dan menjalin persahabatan yang baik dengannya. Itu saja impian terdekatku saat itu. Tapi Allah menjawab dengan jawaban yang lain. Ortuku menyekolahkanku di SMP Muhammadiyah 5 Surabaya. Tempat dimana paman ku bersekolah dahulu. Awalnya aku bertemu dengan Adli Syalam Putra, Iman Haidar, Rizal Abdullah, alm. Ardo, dan Rifky Miftah. Semuanya lelaki dan total dari semuanya ada 6 orang, termasuk aku. Kamu tahu? apa yang aku lihat terlebih dahulu saat pertama kali menginjakan kaki disana? Kamar mandi nya! Karena menurutku waktu itu, hal tersebut menjadi tolak ukur yang tak kalah penting.

       Awal tahun kujalani  dengan perasaan senang, menemukan banyak teman, mengenali apa itu pengkhianatan dan pengucilan di kelas, dan yang paling penting adalah cinta terlarang yang berlanjut hingga saat ini. Kawan demi kawan ku temui, teman demi teman ku kenali, sahabat demi sahabat ku dekati. Tak hanya sesama murid, aku pun juga kenal beberapa guru walau tak terlalu banyak dan tidak terlalu dekat. Semua awalnya berjalan dengan mulus, semulus sabun. Gangguan demi gangguan mulai bermunculan disebabkan karena faktor internal dan juga faktor eksternal. Kalau yang internal nya gara-gara diriku yang pada saat itu masih mencari jatidiri. Gara-gara keegoisanku, dan ketidakmaluan ku. Faktor eksternal berasal dari lingkungan teman-temanku dan juga lingkungan sekolahku. Satu hal yang tidak aku habis pikir sampai sekarang. Aku suka sama seseorang (pas itu aku ngomong suka sebagai sayang) dan berita itu sudah tersebar luas di kalangan siswa-siswi maupun guru-guru. Intinnya seperti gosip yang dengan cepatnya tersebar ke penjuru sekolah.
    Bagi kalian yang mengenaliku, memahamiku dan tahu sejarahku dengan seseorang, pasti kalian sudah tahu kalau seseorang yang hingga kini membuat diriku bertanya-tanya. Ya, hal itu berawal dari Spemma. Kelas 7 kulalui dan kelas 8 menjadi tujuanku saat itu. Semula Rendra yang banyak punya kawan, banyak punya sahabat, banyak punya kenalan dan banyak mempunyai teman baik, perlahan-lahan digerogoti oleh ketidak cakapanku membina hubungan dengan teman-temanku. Alhasil, satu persatu hilang. Itu seperti aku dan dia tak pernah saling mengenal, tak pernah saling bercakap ria, tak pernah saling bertukar cerita,dll. Tapi di kelas ini pula aku menemukan seseorang yang tak asing bagiku, dia bernama Tegar Wijanarko.

      Tapi dibalik itu semua, aku bertemu dengan banyak orang baik pula di kelas yang baik. Memang, dibalik kesulitan selalu disertai kemudahan. Yupz, itulah suatu keseimbangan. Kelas 8F lumayan seru, yang paling aku ingat dari kelas itu adalah terdapat banyak siswa yang senang berfoto-foto seperti aku. Dari kelas ini pula aku mulai dekat dengan sesosok Novi Ayu. Kepribadiannya yang sederhana dan penampilannya yang terkadang lugu membuatku cocok dengannya. Selain itu dari kelas ini pula aku mulai dekat dengan seorang murid bernama Isro' Nazahar. Cowok gemuk yang bokongnya sangat kutaksir. Dari sini pula aku mulai lebih dekat dengan sosok Rohani Nur Fitria. Kepribadiannya yang tomboy dan mulutnya yang ceplas-ceplos membuatku sering tertawa apabila sedang bersamanya. Apalagi dulu waktu masih kelas 7. Di WBL (Wisata Bahari Lamongan) aku selalu bersamanya, kemanapun bersamanya. Dan sampai sekarang masih sangat ingat kata-kata yang sering dia ucapkan dahulu disana, yaitu;

"Oh Tembelek Kacrut"

         Entah apa itu artinya, dan entah mengapa dia terus menerus mengatakannya. Dulu kelas 7 wali kelasku bernama p.Fudoli, dan di kelas 8 pun kedapatan beliau lagi. Beliau adalah salah satu guru bahasa Inggris di Spemma selain bu Purwati, bu Bettyn, dan bu Ika. Spemma itu cantik. Spemma itu indah. Penuh akan kenangan baik, kenangan buruk, kenangan memilukan, kenangan terfavorit, kenangan yang sangat memalukan, kenangan yang paling membahana fantastis, dan yang paling penting, semua itu tak bisa kulupakan. Akan selamanya terekam di dalam sanubariku.

      Saat ku menaiki kelas 9, sesuatu membuatku kaget. Aku sekelas sama anak yang kusayang dari kelas 7. Awalnya aku berusaha buat jaim (jaga image). Tapi lama-kelamaan aku lelah akan semua itu. Lelah menutup-nutupi diriku yang dulunya malas eh semenjak ada dia sok sok rajin. Yang dulunya gak nggenah sekolah, eh sok sok rajin pula. Yang dulunya bolpoin atau pensil tersebar nggak teratur di tas, eh semenjak ada dia menggunakan kotak pensil (hingga sekarang). Mungkin itu aja sih positifnya. Kebawa sampai sekarang menggunakan tepak.
"Makasih ya BB, secara tidak langsung kamu membuat kemajuan untukku."

      Tapi fenomena "jaim" ku hanya berlangsung di permulaan kelas 9 saja.  Setelah itu banyak yang kupikirkan. Mulai dari UNAS, try-out, BTA (Belajar Tulis Al-Qur'an), bimbel,dll. Semua itu terasa sedikit melelahkan dan berjalan dengan sangat cepat. Sangking cepatnya, sampai ku tak menyadari kalau waktu itu mendekati Unas dan akhirnya di wisuda.. :'( .
         Teman yang selalu menemaniku di kelas 9D adalah Alfitra Maharindra Muhammad. Dalam tingkatan ini, aku semakin menurun. Bisa disimpulkan bahwa kelas 7 adalah masa dimana Rendra berkembang lalu jaya. Lalu di kelas 8 Rendra mulai mengalami konflik-konflik serta gangguan yang membuat dia stagnan dan akhirnya di kelas 9, benar-benar terlihat kemunduran dari seorang Rendra.
Yah, begitulah kesimpulan sederhana yang bisa ku gambarkan dari masa kelas 7 ke masa akhirku di Spemma, kelas 9. Saat ku memasuki Spemma, dengan cepatnya ku berkenalan dan berteman dengan banyak anak lulusan SD. Karena ku egois dan belum terlalu paham apa artinya pertemanan, aku mulai menyia-nyiakan satu demi persatu orang-orang asing yang telah menjadi temanku. Dan di saat itu terjadi, aku tak melakukan suatu usaha yang keras untuk membuatnya kembali lagi. Aku hanya melepas, lalu menyaksikan mereka pergi begitu saja. Semua itu belum kerasa saat kita mempunyai banyak teman, tapi di saat kita sendiri, melihat mereka tertawa dengan teman-temannya. Rasanya miris, dan darisitu baru kerasa bagaimana pilunya kehilangan SATU TEMAN. 


"Mungkin mencari 1000 musuh gampangnya bukan main, akan tetapi untuk berteman dengan seorang ASING saja, itu tak semudah seperti yang kita kira."

       Intinya, Sekolah ini memberikanku pelajaran yang luar biasa banyaknya. Mulai dari pertemanan, apa itu artinya persahabatan, bagaimana mempunyai suatu "geng", bagaimana menyayangi seseorang, betapa bahagianya saat masuk sekolah karena menyukai seseorang, belajar tentang pengkhianatan, belajar tentang keramaian, kesedihan, kebusukan, main tusuk dari belakang, merasa terasing/ merasa kecil pada sesuatu yang besar, merasa jaim, merasa terobsesi akan sesuatu, meyukai bahasa Inggris, kehilangan banyak teman, mengetahui kebusukan seseorang, mengetahui betapa busuk dan matinya aku, belajar tentang petunjuk dari Allah, merasakan kedekatan yang teramat sangat kepada Nya, dan merasa tersakiti karena sesuatu. Entah itu hal besar atau sebaliknya.

      Mungkin sebagian dari kalian ada yang bertanya kenapa aku menulis ini saat 2014, di saat masa-masa SMA ku di Smamda hampir habis. Karena jika kalian orang-orang terdekatku pasti kalian tahu seberapa ALAY nya aku dan seberapa berlebihannya diriku pada SMP ku ini. Sekali lagi, kenapa aku memposting ini di tahun 2014, kenapa nggak tahun kemarin atau tahun 2012??
          Jawabannya tak lain adalah karena gedung yang dari tahun 2007-2011 aku gunakan untuk belajar dan menanam kenangan akan segera hancur berkeping-keping. Kepala sekolah yang baru, (Pak Muslikan) beserta guru-guruku yang lainnya menghendaki adanya perubahan dan peningkatan bangunan pada gedung Spemma. Sehingga dihancurkanlah gedung yang lama dan diganti dengan gedung yang baru berlantai 5-7. Awalnya ku tak setuju dan menentang keras hal tersebut. Tapi apa daya, nasi telah menjadi bubur. Banyak orang yang bilang, "Kenangan tetap di hati". Tapi Rendra Nugraha membutuhkan fasilitas untuk mengenang masa-masa SMP nya, lah kalau gedung yang lama hancur, Aku mau mengenang dimanaa???
HUFFTTT. Berikut foto-foto Spemma tercinta ku;


1. MASA-MASA SMP (2008-2011):

Ada foto yang diambil saat kelas 7, dan kelas 8. Tapi mayoritas dari semuanya diambil waktu aku duduk di kelas 8F.















































2. SPEMMA SAAT HENDAK DIBONGKAR

    Kaget awalanya, saat mengetahui sekolahku hendak dihancurkan dan digantikan dengan gedung yang baru. Langsung saja, pada hari Sabtu tanggal 11 Januari 2014, sekitar pukul 10 dini hari. Aku bersama Bregas Taufiqi Ihsan, yang biasa aku panggil kakak, atau superior, mengunjungi Spemma untuk yang pertama kalinya saat hendak dibongkar. Saat ku kesana, aku bertemu dengan salah satu guruku yang naik jabatan saat aku lulus dari Spemma. Tak lain namanya adalah pak Heru. Ketika itu aku melihat beliau sedang melatih adik-adik Spemma ku Paskibra. Aku pikir itu untuk persiapan lomba, atau bisa jadi untuk acara penting, entah itu upacara hari Senin atau mungkin juga untuk acara-acara besar nan formal.
          Saat ku mengujungi Spemma bersama kakak superior, kondisinya masih baik dan bagus. Belum ada sentuhan tangan-tangan tukang. Walaupun kamar mandinya telah dibredeli dan kelasnya kosong melompong. Tapi Alhamdulillah nya, semua kelas terbuka. Sehingga memudahkan kami untuk memasuki setiap kelas-kelas yang kita lewati. Walau begitu, masih untung pula, saya pribadi masih bisa mengenang kenangan saya dahulu di situ. Di Spemma.

Foto diambil dari kamera hp. Jadi maafkan jika mungkin terlihat kurang jelas dan sedikit buram.

Menuju lantai pertama. Di samping meja adalah pintu untuk ke kamar mandi pria.

Kakak. Di tempat dulu digunakan sebagai ruangan TIK.

TERCINTA!!!

Dulu sekali, ini adalah kelas 9A.

Tangga kedua, disamping tangga utama.

Tangga yang menghubungkan dua tempat.

Terlihat kelas 9D ku dulu. Sampai sekarang ku masih ingat betul dimana BB duduk.

Kelas 9D ku dulu. Kelas terakhirku di Spemma.

Kelas 9F. Terlihat kakak superior disana.

Kaca yang menceritakan banyak sejarah.

Kelas 9F. Kelas yang paling ujung sendiri.

Bagian favoritku dari Spemma (dilihat dari lantai 3).

Tangga sampingan. Dahulu sering dibuat nongkrong sama anak-anak.

Di tangga utama. Dan aku baru menyadari betapa sempitnya tangga ini.

Tangga utama. Biasanya kalau waktu sholat, turun langsung berwudhu.
  

 3. RUPA SPEMMA SAAT DIHANCURKAN

   Lambat laun pun aku mulai bisa menerima kenyataan. Bahwa Spemma memang ditakdirkan untuk hancur lalu lahir kembali dengan gedung yang baru. Walau aku hanyalah alumni lulusan tahun 2011. Tapi gini, gini aku masih sayang sama Spemma! Sayang banget!! Saat Spemma mulai dihancurkan aku kembali lagi kesana untuk mengenang sebelum semuanya habis.
     Pada hari Jum'at tanggal 24 Januari 2014, aku bersama Vera Fara Neshela, dan ditemani kakak superior lagi. Rupa Spemma pada waktu itu telah hancur. Dan agak sedih menyaksikan pemandangan tersebut. Tapi apa daya? aku hanyalah alumni yang cuman bisa menyaksikan dan menerima keputusan ketua yang sedang menjabat. Aku bukanlah siapa-siapa. Tapi Spemma bukanlah apa-apa tanpa diriku!
Dan aku bangga menjadi bagian dari sekolah tersebut. Bangga dan merasa menjadi besar.
Oiya, pada saat aku mengunjungi Spemma bersama Vera dan juga bersama kakak superior, tak sengaja bertemu dengan pak Fudoli. kebetulan beliau juga mempunyai tujuan yang sama, yaitu memvideo sama seperti yang ku lakukan.

Foto yang kuambil tentang rupa Spemma pada waktu pembongkaran dibagi menjadi dua periode.              
1. Pada hari Jum'at tanggal 24 Januari 2014
2. Pada hari Sabtu pada tanggal 1 Februari 2014.


Berikut foto-foto yang kuambil pada kesempatan itu. Foto-foto tersebut diambil melalui kamera hp. Jadi maafkan jika kurang jelas serta buram pada videonya.


1. HARI JUM'AT TANGGAL 24 JANUARI 2014.

Ruangan yang dulunya kelas 9B. Dan disebelahnya terdapat ruangan perpustakaan

Ruang LAB IPA

Ruang LAB IPA

Dilihat ke bawah, dari ruang LAB IPA

Ruang LAB IPA

Ruang LAB IPA

Jika dilihat keluar

Ruang LAB IPA

Ruang LAB IPA

Lantai 2 (di depan ruang LAB IPA)



2. HARI SABTU TANGGAL 1 FEBRUARI 2014. 

   Pada awal Februari tahun 2014, Spemma telah mengalami kerusakan yang parah. Sampai-sampai hika dilihat dari Smamda akan terlihat layaknya gedung yang baru roboh. Bahkan sempat ada temanku yang mengatakan bahwa gedungnya seperti habis terkena gempa. Naudzubillah! 

"Kan juga ga mungkin, masak kena gempa jadinya rapi banget. Kayu untuk atapnya aja yang hancur, nah yang lainnya? enggak terlalu hancur"

Pada hari itu, Spemma berangsur-angsur mulai dibredeli. Atap-atap sudah dicopoti, kayu penyangga atapnya pun sudah tertata rapi di halaman depan Spemma. Lantai atas telah dibongkar, sehingga jika kamu melakukan kunjungan kesana, kamu bakal mendapati bahwa Spemma sedang berantakan. Bahkan hancur. Cepat atau lambat gedung yang lama akan roboh, dan digantikan dengan gedung yang baru. Entah itu lantai 5 ataupun lantai 7, pasti gedung Spemma akan dihancurkan karena harus memasang pondasi untuk gedung yang baru nantinya. Pokoknya, lambat tapi pasti, gedung yang lama akan ikut lebur bersama tanah.

Berikut foto yang aku ambil pada hari itu, kali ini aku tak ditemani siapa-siapa saat berfoto ria. Hanya ditemani oleh kakak superior dari jauh.
Terlihat nampak Spemma dari depan. (Atapnya sudah tertata rapi)

Kayu-kayu penyangga atap sudah tertata rapi di halaman Spemma

"Kesatuan dalam perbedaan" itulah Spemma :)

Spemma dari luar

Tertata rapi di halaman depan

Ruang BK, UKS, DLL.

Pintu masuk dimana guru dan murid-murid masuk

Spemma di samping kanan

Spemma dalam kondisi yang memilukan

Ruang rapat, Kelas 9B, Pokoknya ini ruangan yang dingin sekali.

Spemma, dilihat dari sudut pos satpam

Banyak atap. Entah apa namanya

Biasanya selalu duduk di kursi tersebut bersama teman-teman

Ruang BK dan kelas di belakangnya.

Kamar mandi dekat tangga.

Diatas kamar mandi dekat tangga Terbayang tak?

Tangga samping. (Seperti di film-film)

Ruangan 9B beserta perpustakaan dibelakangnya

Tertata rapi

Kayu dan besi berpadu menjadi satu. Terata menjadi satu

Besi-besi dan kayu-kayu

HMMM . . .




Dilihat dari pintu masuk Spemma

Rumah tempat membayar SPP bulanan, dan segalanya.

Dari ujung kanan

Lab IPA

Lantai 2

  

Dan berikut video yang aku ambil pada tanggal 24 Januari 2014, hari Jum'at



Posted by
Rendra Nugraha

More
Diberdayakan oleh Blogger.